Bergetar hati berpeluh raga Disekilas sayup tatapan mata hati Hembusan api asmara merona merambah sekujur jiwa Mengalun puisi pujian pada pujaan Mengalir dan mengalir seumpama tiada habis, Akan terus mengalir Menyelami jiwamu dalam gejolak batinku Untuk merobohkan kesombongan tembok semu Meraba hatimu dalam ketidakmampuan hakiki Namun, aku kan terus menyinta dan menyinta Menyayangi seutuh jiwa semampu raga Karena semerbak namamu mampu bangkitkan itu Suaramu mampu riangkan kerinduanku Untuk kau tahu Bahwa, cintaku takkan redup oleh jaman Kasih dan sayangku takkan terhenti dibatu nisan Kan kusanjung dirimu melebih bulan Kan kubawa melayang setinggi bintang Untuk selalu mengingatmu dalam kesendirianku Demi selalu merindumu dalan kesepianku Namun apa latah….? Bila cinta terus menyayat karena ketidak mampuan Menggerayangi rapuhnya satu sisi hati Karena tak cukup hanya dengan dua tangan tuk meraih Sepenuhnya, Kusadari aku belum mampu runtuhkan hatimu Meskipun harusnya aku malu dengan diriku Yang terus memaksa kehendak yang tak dikehendaki Aku tak berharap bersamamu Aku tak berdo’a untuk meraihmu Percuma jika hanya akan menyakitkan dirimu Meski begitu tak kan kusesali Apalagi kutangisi Sungguh segala sesuatu memang harus terjadi. Senin, 19 Nopember 2007 01.15 am
Senin, 19 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Sambat