Hampir dapat kupastikan, jika aku yang sebelumnya bermimpi untuk memiliki dirimu berjalan dengan cintaku seorang diri, tak terbalaskan dalam naungan kasihmu.
Segala pertimbangan telah terjadi dalam termenungku, diantaranya resiko bertepuk sebelah tangan atau gayung cinta yang tak bersambut.
Sebuah kesempatan bertemu denganmu telah terjadi dan itu akan terulang dan berulang lagi. Seperti halnya malam ini, lewat sebuah perantara kejadian hingga untuk pertama kalinya sejak kamu mudik kita bertemu kembali. Agak kikuk aku di hadapmu, aku yang mencoba tuk bersikap wajar dan biasa tiba – tiba menjadi beringsut mengkerut kecut hati dihadapmu. Kekuatan fatamorgana yang dasyat memang!.
Menatap wajahmu aku tak sanggup, apalagi menatap bola matamu. Aku jadi kecil dan seakan tak berarti.
Dalam hal ini aku mesti bersikap tegas padaku. Menjaga jarak dan porsi sebuah pertemuan demi menghambarkan asa yang telah kuciptakan sendiri. Aku harus mampu melunturkan jiwa yang terlanjur sakit terhadapmu. Tak akan lari dalam menghadapimu bila memang harus dihadapi. Dan akan kusimpangkan bila dapat.
Andai saja ........................................ pasti akan kubawa pergi jauh melampaui batas negara ini, dalam menuju sebuah penghidupan yang lebih baik, lebih layak dan itu akan kupersembahkan kepadamu.
Karena faktanya seperti ini maka akan tertunjukkan kepada siapapun dan dimanapun bahwa aku mampu dan aku bisa membuktikannya kesana.
Karenamu semangat kesana manjadi lebih menggebu. Terobsesi oleh sebuah angan yang meluas. Semua itu terwujud oleh karena golongan sepertimu yang telah memandang sebelah mata dalam setiap kehadiranku. Aku jadi merasa terlecehkan dan tercampakkan. Bagi kalian aku ibarat “Tebu”, dan bagaimanapun juga itulah sebuah garis yang harus kulewati berkali – kali.
Selasa, 07 Oktober 2008
Memory Oktober
Sabtu, 17 November 2007
Sepenggal kisahku hilang dipasar Kalibaru
Matahari dan awan beradu dilangitMu, membawa suasana segarnya hawa pegunungan di Bukit Kalibaru, dengan semangat kuayun langkah kaki menyusuri toko dan kios di sisi pasar bertemu sapa dengan pelanggan beserta pembantunya, perbincangan hangat terjadi hingga senyum simpul ketulusan diantara kami saling bertemu. sekilas menawarkan hati yang gundah sedari tadi malam.
Setelah Room service mempersilahkan diriku masuk serta menawariku welcome drink, pertanda kamar sudah siap! kuberikan tips ala kadarnya sebagai ucapan terima kasihku kepadanya, sepintas kulihat, digenggamnya uang itu lalu disarungkan pada saku celana sebelah kanan. Kuhempaskan kepenatan yang menyeruak dari berkeliling daerah Banyuwangi pada hamparan matras yang terpampang didepanku. Selang beberapa menit terdengar ketukan halus dari pintu kamar, ternyata Room Service tadi telah membawakan welcome drink pesananku.
Kunyalakan tv 14 inchi mencoba mencari hiburan yang menarik, biasanya pada jam segini TransTv menayangkan film-film terbaiknya, ternyata tak ada acara yang menarik buatku diantara sekian stasiun tv yang ada itu.
Waktunya menyegarkan badan, pikirku, barangkali dapat me-refresh jaringan-jaringan peredaran darah menuju otak yang lagi panas ini.
Setelah aku mandi, hilang sudah kepenatan dibadan yang bercampur peluh sedari tadi, badan lebih segar!! Oalaah……kenapa memory otakku terus-terusan memutar sosok dirimu yang telah mempesonakan aku,
Ngawur : tangi turu 17.11.2007
Aku tak mengerti apa selanjutnya langkah yang harus kulakukan untuk mnghentikan otonomi percintaan ini. Aku bingung dengan segala tips yang semua mengatakan bahwa hak itu memang benar adanya.
Rabu, 11 Oktober 2006
Anekdot Cinderela
Sebuah ungkapan se-enaknya oleh mata pena yang sekenanya dalam menyusun prakata bahasa ini adalah tragedi yang tersulut oleh ironi tak turun hujan kok muncul pelangi hati siapa yang tak tergelitik tuk mencuri pandang ibarat “Nggugah Macan Turu” barang wes tangi ditinggal mlayu salahe sopo? yo gak ono sing salah pancen kahanane yen wes yo wis ora perlu dipekso titik tul gak nganggo koma। Ramadhan, 1427 H
15 selengkapnya......Selasa, 02 Agustus 2005
Kupersembahkan Untukmu
…………Hai perempuan……………………………………………………………… …………Lewat sebuah jembatan sengaja kita dipertemukan……………………… …………Kala itu aku merasakan biasa seperti umumnya………………………… …………Hingga aku harus tuk mencoba, apa salahnya pikirku…………………… …………Hingga kuhadirkan diriku dengan apa adanya aku……………………… …………Sekilas sukaku seakan bersambut (atau tak bersambut)………………… …………Kala malam kadang angan merasuk…………………………………… …………Tentang kita kelak yang sepintas tergambar…………………………… …………Kalimatpun terucap tentang keadaan………………………………… …………Dalam tanyaku tentang sebuah kesempatan menuju harapan……………… …………Engkau berucap meskipun tak semua terjawab…………………………… …………Namun kucoba tetap berusaha mencapai gayung bersambut…………… …………Aku memang bukan pangeran dan juga ksatria…………………………… …………Aku manusia bodoh yang belajar mencoba berusaha…………………… …………Demi meraih sebuah cinta kasih………………………………………… …………Kini, jika engkau enggan…………………………………………………… …………Kumohon angkatlah bicara dalam diammu………………………………… …………Jangan bungkam dalam benak kebisuan…………………………………… …………Agar aku mengerti……………………………………………… …………Dan kan kuhormati segala keputusanmu…………………………………… …………Karena hati memang tak bisa dipaksa……………………………………… …………Saat ini aku bimbang beraduk kecewa………………………… …………Kecewaku bukan soal hatimu…………………………………………… …………Kecewaku karena diammu dan sikapmu…………………………… …………Menjadikan aku tak mengerti harus bagaimana………………………… …………Jika memang harus hanya sampai disini………………………………… …………Kusadari serta tak akan ku paksakan……………………………………… …………Namun, dalam kesempatan kali ini………………………………………… …………Kubersimpuh memohon ampunanmu……………………………………… …………Jika kehadiranku telah mengganggu waktumu…………………………… …………Karena ikhlas ampunanmu……………………………………………… …………Sangatlah berarti kelak bagiku………………………………………
15 selengkapnya......
