Hampir dapat kupastikan, jika aku yang sebelumnya bermimpi untuk memiliki dirimu berjalan dengan cintaku seorang diri, tak terbalaskan dalam naungan kasihmu.
Segala pertimbangan telah terjadi dalam termenungku, diantaranya resiko bertepuk sebelah tangan atau gayung cinta yang tak bersambut.
Sebuah kesempatan bertemu denganmu telah terjadi dan itu akan terulang dan berulang lagi. Seperti halnya malam ini, lewat sebuah perantara kejadian hingga untuk pertama kalinya sejak kamu mudik kita bertemu kembali. Agak kikuk aku di hadapmu, aku yang mencoba tuk bersikap wajar dan biasa tiba – tiba menjadi beringsut mengkerut kecut hati dihadapmu. Kekuatan fatamorgana yang dasyat memang!.
Menatap wajahmu aku tak sanggup, apalagi menatap bola matamu. Aku jadi kecil dan seakan tak berarti.
Dalam hal ini aku mesti bersikap tegas padaku. Menjaga jarak dan porsi sebuah pertemuan demi menghambarkan asa yang telah kuciptakan sendiri. Aku harus mampu melunturkan jiwa yang terlanjur sakit terhadapmu. Tak akan lari dalam menghadapimu bila memang harus dihadapi. Dan akan kusimpangkan bila dapat.
Andai saja ........................................ pasti akan kubawa pergi jauh melampaui batas negara ini, dalam menuju sebuah penghidupan yang lebih baik, lebih layak dan itu akan kupersembahkan kepadamu.
Karena faktanya seperti ini maka akan tertunjukkan kepada siapapun dan dimanapun bahwa aku mampu dan aku bisa membuktikannya kesana.
Karenamu semangat kesana manjadi lebih menggebu. Terobsesi oleh sebuah angan yang meluas. Semua itu terwujud oleh karena golongan sepertimu yang telah memandang sebelah mata dalam setiap kehadiranku. Aku jadi merasa terlecehkan dan tercampakkan. Bagi kalian aku ibarat “Tebu”, dan bagaimanapun juga itulah sebuah garis yang harus kulewati berkali – kali.
Selasa, 07 Oktober 2008
Memory Oktober
Label:
Perjalanan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Sambat