Rabu, 15 Oktober 2008

Kabar Petang

Kabar telah datang bersama hembusan angin summer malam ini, aku yang baru saja melanglang buana dari jagad barat (dawarblandong) masih terengah-engah begitu bersandar di tepian. Terlibat perbincangan dengan kawan dan sahabat. Riuh kicau mereka menyambut kadatanganku. Begitu perbincangan menjurus pada kisah pilumu aku tersedak dan tertegun hati. Yang kudengar dari mulut-mulut mereka bahwa dirimu telah melahirkan seorang buah hati (son). Kupejamkan mata sesaat, mencoba untuk menepis berita yang belum tentu benar adanya. Namun aku terseret bersama desas-desus, yang berkenaan dengan kronologi akan hal itu menjadikan suatu rumor dalam lingkungan sekitar tempat tinggalmu, hingga kisah usaha Bapakmu dalam menutupi aib yang melanda kehidupan keluarganya, atau mengklarifikasikannya, telah disampaikan dalam jamaah tahlil bahwa dirimu telah dinikahkannya pada bulan Januari lalu.

Aku yang masih terdiam dan tertegun akan berita itu menerawang membayang. Andaikata hal itu benar adanya, Sungguh ...... sayang seribu satu sayang.
Tapi api telah membakar arang untuk menjadi abu. Apa yang telah terjadi adalah masa lalu yang mejadi pelajaran yang begitu berharga bagi kita, “Manusia” dan Allah Tuhan alam semesta jagad pasti akan membuka pintu ma’af bagi hambanya dengan perantara Taubatan Nasukha.
Aku disini yang masih menyayangimu menyisakan penyesalan atas apa yang telah terjadi padamu dan keluargamu. Keprihatinan mendalam. Dirimu adalah anak pertama dan sebagai kakak bagi adik-adikmu, pun seharusnya menjadi tauladan bagi mereka, menjadi contoh panutan dan kebanggaan mereka.
Bertahun sudah kita tak pernah bertemu, komunikasi terakhir yang terjalin adalah pada saat lebaran 1429 H kemarin. Terakhir kali kudengar merdu suaramu dikala Ramadhan kemarin, dimana telah kau hubungi aku dengan nomor lain, namun aku yang masih seperti biasa terlelap oleh indahnya mimpi tak menyadarinya. Disaat aku terjaga dan mengetahui panggilan tak terjawab hingga 4x membuat aku tergerak untuk menghubungi kembali. Terdengar alunan nadamu dan aksenmu yang begitu kuat, meskipun kau berpura-pura sebagai orang lain.
Selang satu hari kau kirimi aku ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Aku tambah yakin kalau yang menghubungi aku kemarin adalah dirimu.Malam ini sedikit banyak aku masih terngiang dan memikirkan dirimu. Sungguh alangkah bahagianya dirimu, teruama kedua orang tuamu, seandainya semua itu terjadi dalam sebuah perjalanan yang seharusnya dan yang diridhoiNya.
Aku masih terpana dan mencoba mengingkari berita itu, hatiku masih tak rela bilamana itu terjadi padamu. Hati telah basah oleh cucuran air mata batinku, sungguh aku akan ikut berbahagia bilamana hal itu melalui proses keabsahan menurut kayakinan kita. Aku rela dan pasti aku turut bahagia. Bukan sebaliknya, keprihatinan seperti saat ini.Pesanku untukmu, (yang mungkin tak akan tersampaikan dalam kenyataan)
Kuatkan dirimu dalam menjalani langkah kehidupan, teruslah lurus memandang dalam menggapai harapan untuk masa depan. Janganlah kau tengok kebelakang yang berlalu adalah pelajaran. Janganlah penyesalan itu untuk kau ratapi karena hal itu tak ada guna, bagimu dan bagi semua. Rawat & bimbinglah buah hatimu dengan ketulusan rasa sayangmu sebagai seorang ibu.
Aku yang menyisakan cinta untukmu hanya bisa mendoakan untukmu dan keluargamu, semoga kesabaran, kebahagiaan senantiasa menyelimuti hatimu. Jangan patah semangat karena harapan itu masih ada, dan aku masih disini untukmu.
SELAMAT MENJADI SEORANG IBU My Litlle Angel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Sambat